NEGERI TERNAK INDONESIA Mitra Pengembangan Peternakan Rakyat Jl. Arzimar II No. 42 RT 02/ 18 Bogor Utara, Jawa Barat - INDONESIA Mobile : (0251) 4784 400 SMS Centre : 0878 7373 7684 Email : negeriternak@yahoo.com
Pemanfaatan Limbah Pabrik Sawit Untuk Pakan Ternak Sapi Di Bengkulu
Saturday, 19 December 2009 11:22
Oleh: Rasmawan
Mahasiswa, Program Pascasadana, PSL Fakultas Pertanian Universitas Bengkulu
ABSTRAK
Peningkatan luas, perkebunan kelapa sawit di Provinsi Bengkulu dewasa ini telah memberikan manfkat terhadap peningkatan kesejahteraan petam, namun juga, mempunyai dampak negatif terhadap lingkungan terutama dari limbah pabrik pengolahan minyak sawit (CPO). Jumlah limbah yang cukup besar akan menjadi masalah yang dapat menjadi ancaman pencemaran lingkungan, bila, tidak dikelola, dan dimanfaatkan dengan baik. Salah satu solusinya, dengan memanfaadcan limbah pabrik sawit sebagai bahan pakan ternak sapi. Diantara limbah pabrik sawit yang potensial dan banyak diteliti pemanfhatannya. untuk pakan ternak adalah lumpur sawit , bungkil inti sawit dan serat perasan buah. Hasil penelitian yang dilakukan di PT. Agricinal Bengkulu menunjukkan bahwa, sapi yang diberi pakan. campuran pelepah sawit, bungkil sawit dan lumpur sawit (solid) dengan perbandingan 1:1:1 memberikan pertambahan bobot 338 gr/e/h. Pemberian lumpur sawit sebagai pengganti dedak memberikan hasil susu yang sama, dengan kontrol pada sapi perah dan pemberian lumpur sawit yang dicampur bungkil inti sawit dengan perbandingan 50: 50 merupakan terbaik untuk pertumbuhan sapi. Pengujian yang dilakukan Balai Pengkaiian Teknologi (BPTP) Bengkulu di lokasi Prima Tani Desa Talang Benuang menununjukkan bahwa, penambahan solid yang di fermentasi dahulu sebanyak 43 % pada ransum memberikan pengaruh positif terhadap penmbahan berat badan harian sapi potong. Pemanfaatan limbah pabrik sawit ini sudah diaplikasikan untuk pakan sapi di Bengkulu seperti P.T. Agricinal Bengkulu Utara, dan pada, kelompok tani lokasi Primatani Desa, Talang Benuang Kabupaten Seluma.. Penerapan teknologi ini diharapkan dapat menjadi salah satu cara dalam mengatasi masalah limbah pabrik sawit agar tidak mencemari lingkungan dan sekaligus dapat memberikan nilai tambah secara ekonomi.
Kata kunci: Limbah pabrik sawit, pakan ternak, sapi
PENDAHULUAN
Perkembangan luas kebun kelapa sawit di Indonesia dewsa. ini cukup pesat, seiring dengan tingginya, permintaan dunia, akan minyak sawit (CPO). Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (2006) menunjukkan bahwa, Indonesia menghasilkan minyak sawit (CPO) 18,8 juta ton. Dari angka tersebut perkiraan limbah pabrik sawit yang dihasilkan dalam setahun berupa, tandan buah kosong 540 juta ton, serat perasan buah 11,2 juta ton, lurnpur sawit atau solid decanter 7,6 juta ton (= 2 juta ton bahan kering), solid membran 40 juta ton (‑‑ 4 juta ton bahan kering), bungidl inti sawit 8,6 juta. ton dan. cangkang 7,6 juta ton. Jumlah ini akan terus meningkat dengan bertambahnyajumlah produksi minyak sawit.
Demikian pula di Provinsi Bengkulu dari tahun ketahun peningkatan luasan kebun kelapa sawit cukup segnifikan mengingat kelapa. sawit merupakan salah satu komoditi andalan daerah. Luas perkebunan kelapa sawit di Provinsi Bengkulu pada tahun 2007 mencapai 163.455 Ha terdiri dari Perkebunan Besar Nasional (PBN) 4.685 Ha, Perkebunan Besar Swasta (PBS) 28.263 Ha, dan Perkebunan Rakyat (PR) 64.531 Ha. Total Produksi pada tahun 2007 sebesar 1.654.506,77 ton (BPS, 2007).
Peningkatan luas kebun kelapa sawit yang diiringi dengan peningkatan jumlah produksi mengakibadm bertambahnya jumlah atau kapasitas industri pengolahan minyak sawit. Hal ini juga akan menimbuUmn masalah, karena jumlah limbah yang dihasilkan akan bertambah pula, yang apabila. tidak dikelola dan dimanfhatkan dengan baik akan menyebabkan pencemaran lingkungan. Hingga 2007 jumlah pabrik pengolahan sawit di Provinsi Bengkulu sebanyak I I unit dan yang sudah berproduksi 6 unit dengan kapasitas rata‑rata 30 ton/jam. Apabila ke I I pabrik pengolahan sawit im sudah beroperasi semua diperkirakan dapat mengolah minyak sawit sebanyak 792.000 ton/tahun.
Limbah yang dihasilkan dalam pengolahan buah sawit berupa : tandan buah kosong, serat buah perasan, lumpur sawit (solid decanter), cangkang sawit, dan bungkil sawit dengan persentase masing‑masingnya seperti pada bagan 1.
Limbah sawit yang dihasilkan pabrik pengolahan sawit yang cukup besar tersebut akan menjadi masalah besar yang dapat merupakan ancaman pencemaran lingkungan, apabila tidak dikelola dengan baik. Disarnping itu, diperlukan juga biaya yang tidak sedikit dalarn pengelolaan limbah ini. Oleh karena itu, perlu diupayakan agar limbah tersebut tidak menjadi beban, tetapi sebaliknya dapat memberi nilai tambah bagi usaha perkebunan atau usaha lainnya. Salah satu solusinya adalah dengan menggunakan bahan‑bahan tersebut menjadi pakan ternak khususnya sapi.
Tandan buah
segar
IF
Tandan kosong Serat buah Minyak kasar (CPO) Inti sawit Cangkang
(55‑58%) (120%) (18‑20%) (4‑5%) (8
Solid membran Lumpur sawit Minyak imi sawit Bungkil inti
Gambar 1. Bagan proses, pengolahan kelapa sawit dan perkiraan proporsi terhadap tandan buah segar
Potensi igembangan ternak sapi & Provinsi Bengkulu cukup bnggi sesuai dengan permintaan pasar akan daging yang terus meningkat. Populasi ternak pada tahun 2006 untuk sapi adalah 97.325 ekor (BPS, 2007), yang tersebar pada. peternalcan rakyat di delapan kabupaten. dan satu kota. Peningkatan jumlah ternak sapi dari tahun ketahun tentu saja memerlukan pakan yang tidak sedikit. Limbah sawit dapat merupakan. pakan alternatif disamping pakan alami berupa rumput/hijauan.
Karakteristik dan Pemanfaatan Limbah Pabrik Sawit untuk Sapi.
Tandan kosong
Tandan kosong merupakan limbah yang paling banyak dihasilkan oleh pabrik pengolahan sawit. Bahan ini mempunyai kandungan protein 3,7% dan nilai gizinya sama. atau lebih baik dari jerami padi (Osman, 1998). Akan tetapi, teksturnya keras seperd kayu, selungga. tidak disukai oleh ternak kecuali bahan ini diolah lebih dahulu dalam bentuk lain yang lebih disukai.
Meskipun sudah ada beberapa penelitian yang dilakukan xmtuk pemanfhatan tandan buah kosong menjadi pakan ternak, kenyataannya sampai saat ini, bahan tersebut umumnya masih digunakan sebagai mulsa. yang dikembalikan ke kebun sawit. Pemanfhatan bahan ini sebagai bahan pakan mungkin merupakan alternatif terakhir, bila bahan pakan lain sudah tidak tersedia lagi. Oleh karena itu, pernbahasan tentang penggunaan tandan buah kosong sebagai pakan ternak tidak dikemukakan di dalam makalah ini.
Serat perasan buah
Serat sisa perasan buah sawit merupakan serabut berbentuk seperti benang. Bahan ini mengandung protein kasar sekitar 4% dan serat kasar 36% (lignin 26%). Dari komposisi kimia yang dimiliki, bahan ini mempunyai kandungan gizi yang setara dengan rumput.
Penggunaan serat perasan buah sawit dalam ransum sapi telah cliteliti oleh Hutagalung et al. (1986). Bahan ini mernpunyai nilai kecernaan sekitar 47%. Penggunaan serat perasan dalam ransum sapi disarankan sekitar 10% dari konsumsi bahan kering. Serat perasan ini kurang disukai oleh ternak sapi, oleh karena itu perlu pengolahan agar bahan ini dapat digunakan secara optimal. Proses fermentasi temyata dapat meningkatkan palatabilitas bahan ini (Suharto, 2004). Perlakuan amoniasi telah dilaporkan dapat meningkadm pertambahan bobot badan sapi bila dibandingkan dengan yang tidak di proses (Hutagalung et al., 1986), seperti terlihat pada Tabel 2. Rossi dan Jamarun (1997) melaporkan serat sawit dapat digunakan sebagai pengganti 50% nunput lapangan dalarn ransum sapi dengan suplementasi bungidl inti sawit.
Tabel 1. Pertarnbahan bobot badan sapi yang diberi serat perasan buah sawit yang tidak dan sudah diproses dengan amoniasi (diolah dari Hutagalung et al., 1986)
Perlakuan terhadap serat perasan
Parameter buah sawit
Tanpa diolah Proses amoniasi
Kondisi Percobaan:
Jumlah ternak (ekor) 12 12
Jumlah dalam ransum (0/6) 52,27 66,7
Bahan kering ranstun C/o) 66,21 67,79
Kandungan protein ransum (%) 14,32 14,15
Kandungan Gross energi (MJ/kg) 18,7 22,20
Hasil Percobaan :
Pertambahan bobot badan (g/e/h) 442,3 163,3
Konsumsi ransum (kg/e/h) 4,59 5,34
Lumpur sawit
Dalam proses pengolahan minyak sawit (CPO) dihasilkan limbah cairan yang sangat banyak, yaitu sekitar 2,5 m3/ton CPO yang dihasilkan. Limbah ini mengandung bahan pencemar yang sangat tinggi, yaitu. ‘biochemical oxygen demand’ (BOD) sekitar 20.000‑60.000 mg/l (Wenten, 2004). Pengurangan bahan padatan dari cairan ini dilakukan dengan menggunakan suatu alat decanter, yang menghasilkan solid ‘decanter atau lurnpur sawit. Bahan padatan ini berbentuk seperti lumpur, dengan kandungan air sekitar 75%, protein kasar 11‑14% dan lemak kasar 10‑14%. Kandungan air yang cukup tinggi, menyebabkan bahan ini mudah busuk. Apabila dibiarkan di lapangan bebas dalam waktu sekitar 2 hari, bahan ini terlihat ditumbuhi oleh jamur yang berwarna kekuningan. Apabila dikeringkan, lumpur sawit berwarna kecoklatan dan terasa sangat kasar dan keras. Banyak penelitian telah dilaporkan tentang penggunaan lumpur sawit sebagai bahan pakan ternak ruminansia maupun non‑ruminansia. Berdasarkan percobaan yang dilakukan pada ternak sapi, Suharto (2004) menyimpullm bahwa kualitas lumpur sawit lebih unggul dan dedak padi.
Sutardi (1991) melaporkan penggunaan lumpur sawit untuk menggantikan dedak dalam ransum sapi perah jantan maupun sapi perah laktasi. Penelitian ini menunjukkan bahwa penggantian semua (100%) dedak dalam konsentrat dengan lumpur sawit memberikan perturnbuhan dan produksi susu yang sama dengan kontrol. Bahkan ada kecenderungan bahwa kadar protein susu yang diberi ransum lumpur sawit lebih tinggi dari kontrol. Hal yang serupa juga, dilaporkan oleh Suharto (2004). Menurut Chin (2002), pemberian lumpur sawit yang dicampur dengan bungidl inti sawit dengan perbandingan 50:50 adalah yang terbaik untuk pertumbuhan sapi. Dilaporkan bahwa sapi droughtmaster yang digembalakan di padang penggembalaan rumput Brachiaria decumbens hanya mencapai pertmbuhan 0,25 kg/ekor/hari, tetapi dengan penambahan lumpur sawit yang dicampur dengan bungkil inti sawit, mampu mencapai pertmbuhan 0,81 kg/ekor/hari.
Solid membran
Limbah cairan yang dikeluarkan setelah pengutipan lumpur sawit, masih mengandung bahan padatan yang cukup banyak. Oleh karena, itu, bahan ini merupakan sumber kontaminan bagi lingkungan bila, tidak dikelola, dengan baik. Suatu metoda baru untuk memisahkan padatan dan cahun~ dengan menggunakan alat penyaring membran keramik sedang dikembangkan di P.T. Agricinal ‑Bengkulu (Wenten, 2004). Aplikasi teknik ini dapat mengutip padatan dengan jumlah sekitar dua, kali lipat lebih banyak dari padatan yang dikutip oleh decanter. Bahan ini disebut ’solid heavy phase’ atau ’solid membran’, berbentuk pasta dengan kadar air sekitar 90%, dan berwarna. kecoklatan. Bahan yang sudah dikeringkan mengandung protein kasar sekitar 9 %, serat kasar 16% dan lemak kasar 15% (Tabel 1). Dari kandungan gizinya, kemungkinan bahan ini bukan hanya, cocok digunakan sebagai bahan pakan untuk temak ruminansia, tetapi kemungkinan juga. baik untuk temak non‑ nuninansia. Belum ada, penelitian tentang penggunaan bahan ini sebagai bahan pakan temak, eksplorasi untuk ini sedang dilakukan di Balai Penelitian Temak ‑ Ciawi.
Bungkil inti sawit
Bungkil inti sawit mempakan hasil samping dari pemerasan daging buah inti sawit. Proses mekanik yang dilakukan dalam proses pengambilan minyak menyebabkan jumlah minyak yang tertinggal relatif cukup banyak (sekitar 7‑9 %). Hal ini menyebabkan bungIdl inti sawit cepat tengik akibat oksidasi lemak yang masih tertinggal‑ Kandungan protein baban ini cukup tinggi, yaitu sekitar 12‑16%, dengan kandungan serat kasar yang cukup tinggi (36%). Bungkil inti sawit biasanya terkontaminasi dengan pecahan cangkang sawit dengan jumlah sekitarl5‑17%. (Anonymous, 2002). Pecahan cangkang ini mempunyai tekstur yang sangat keras dan tajam. Hal im menyebabkan bahan tersebut kurang disukai ternak dan dikhawattrkan dapat merusak dincling saluran pencernaan pada ternak muda.
Penelitian penggunaan bungkil inti sawit dalam ransum sapi perah, sapi potong, domba, dan kambing sudah dilaporkan. Produksi susu sapi peranakan Sahiwal‑friesian (produksi susu 7,7 kgAiari selarna, masa produksi 200 hari) dengan ransum yang mengandung bungkil inti sawit tidak berbeda nyata dengan produksi susu ransum konvensional (8,4 kg) (Anonymous, 2002). Umumnya pada peternakan sapi perah diberikan ransum konsentrat dengan komposisi bungkil inti sawit 64,5%, jagung 25,0%, bungkil kedelai 8,0%, garam 1,00/o, dan campuran mineral/vitamin.
Penggemukan sapi dapat dilakukan dengan pemberian bungIdl inti sawit tanpa serat dengan pertumbuhan 749 g/h/e (Mustaffa‑Babjee et al., 1984). Padmowijoto et al. (1988) melakukan penelitian pemberian bungkil inti sawit (21, 35, dan 60 % dalam konsentrat dengan jenis imbangan hijauan masing masing 15/85, 30/70, dan 45/55) pada peranakan Ongole dan peranakan Friesian Holstein. Perbedaan imbangan hijauan dengan bungkil inti sawit ini tidak menyebabkan perbedaan yang nyata terhadap kineria sapi. Kualitas dagmg sapi juga tidak dipengarulu perlakuan ransum.
PEMANFAATAN LIMAH PABRIK SAWIT UNTUK PAKAN TERNAK SAPI DI BENGKULU
Pemanfaatan limbah pabrik sawit sebagai pakan ternak saat im telah mulai dilakukan oleh petani di Provinsi Bengkulu seperti di areal perkebunan PT. Agricinal Kabupaten Bengkulu Utara. Ternak sapi yang dipelihara di setiap afdeling umumnya diberi pakan yang terdiri dari pelepah sawit, dan lumpur sawit. . Di setiap afdeling dibuat suatu bak penwnpungan lumpur sawit yang diangkut dari pabrik. Pemilik sapi mengambil lumpur sawit dan bak penampungan sesum kebutuhan. Seringkali, ternak sapi menghampiri bak penampungan untuk makan lumpur sawit. Kedua bahan ini cukup disukai oleh ternak sapi.
Pada tahun 2002/2003 Mathius et al (2004), melakukan penelitian di kebun P.T. Agricinal Bengkulu dengan membuat formulasi pakan sapi dari kombinasi pelepah sawit, lumpur sawit dan bungIcil inti sawit, tanpa dedak. Hasil penelitian im menunjukkan bahwa pakan sapi yang terbalk adalah bila kornbinasi antara pelepah sawit, lurnpur sawit dan bungkil mti sawit dengan perbandmgan (bahan kering) 1:1:1. Dengan formula ini diperoleh rata‑rata pertambahan bobot badan sebesar 338 g/e/h.
Penelitian ini kernudian dilanjutkan dengan meningkatkan kualitas gizi limbah pabrik sawit melalui proses fermentasi (Sinurat et al., 2005) sebelum diberikan pada temak.
Elisabeth dan Ginting (2004), membuat penelitian dengan memberikan pakan pada temak sapi berupa campuran dari pelepah sawit, lumpur sawit, bungkil inti sawit, dedak, urea dan garam. Dari hasil. penelitian ini disimpulkan bahwa formula yang terbaik adalah carnpuran pakan yang terdin dari pelepah sawit 60%, lumpur sawit 18%, bungicil inti sawit 18% dan dedak 4%. Dengan perlakuan ird, temak sapi Bali yang digunakan dapat mencapai rata‑rata pertambahan bobot badan 0,52 kg/e/h.
Demikian juga pada lokasi Prima Tani Desa Talang Benuang Kecamatan Air Periukan Kabupaten Seluma, petani telah memanfaatkan limbah pabrik sawit (solid) yang berasal dari pabrik yang berada disekitar lokasi Prima Tani (PT. Agri Andalas) sebagai pakan temak sapi, dimana sebelum diberikan pada sapi solid terlebih. dahulu di fermentasi. Berdasarkan hasil pengujian. BPTP Bengkulu pada lokasi Primat Tani, penambahan solid yang difermentasi lebih dahulu dalam ransum sapi potong yang mencapai 43 % memberikan pengaruh positif terhadap pertumbuhan dan berat badan harian. Pada masa yang akan datang, limbah pabrik sawit lainnya (bungidl inti sawit dan solid heavy phase) juga mempunyai potensi untuk digunakan sebagai pakan ternak. Proses fermentasi akan dibuat secara. komersial. sehingga sernua limbah sawit (lumpur sawit, bungkil inti sawit dan solid heavy phase serta serat perasan buah) dapat ditnanfaatkan secara. optimal dan memberi nilai tambah ekonomi yang lebih baik.
Hal ini sejalan dengan hasil penelitian Mathius et al (2005) yang melaporkan bahwa beberapa formula ransum yang merupakan campuran dan pelepah sawit, bungkil inti sawit, lumpur sawit dan produk fermentasi limbah sawit (lumpur sawit dan bungkil inti sawit), disusun. dan diberikan pada ternak sapi. Ransurn kontrol, yang terdiri dari campuran jagung, dedak dan mineral, tanpa limbah pabrik sawit juga dibuat. Hasil. penelitian ini menunjukkan bahwa pakan yang terbaik adalah campuran darl pelepah sawit, bungkil inti sawit dan produk fermentasi dengan perbandingan 1:1:1 (setara berat kering). Campuran pakan ini menghasilkan rata‑rata pertambahan bobot badan 582 g/e/h. Sedangkan sapi yang diberi pakan yang terdiri dari firnbah pabrik sawit yang tidak difermentasi dan pakan kontrol masing‑masing hanya menghasilkan pertambahan bobot badan 3 10 dan 354 g/e/h.
KESIMPULAN
Dari uraian diatas dapat disimpulican beberapa hal:
I . Peningkatan luas kebun sawit yang diiringi dengan peningkatan jumlah produksi mengakibatkan bertambahnya jumlah atau kapasitas industri pengolahan minyak sawit. Hal ini juga akan menimbullcan masalah, karena limbah yang dihasilkan akan bertambah pula, dan apabila tidak dikelola dan dimanfhatkan dengan baik akan menyebabkan pencemaran lingkungan.
Salah satu solusi dalam mengatasi pencernaran lingkungan yang disebabkan fimbah pabrik sawit , dengan memanfaatkan limbah tersebut sebagai pakan ternak sapi.
Pemanfhatan limbah sawit yang berupa lumpur sawit (solid) dan bungkil inti sawit telah diterapkan oleh petani plasma PT.Agricinal Bengkulu Utara dan petani pada lokasi Prima Tani Talang Benuang Kabupaten Seluma, dan hasilnya cukup baik terhadap pertmbuhan sapi potong maupun sapi perah.
UCAPAN TERIMA KASIH
Pada kesempatan yang baik ini kami menyampaikan ucapan terima kasih kepada:
1. Bapak Ir. BY Manurung, selaku Komisaris Utama PT. Agricinal Kabupaten Bengkulu Utara.
2. Bapak Prof. In Urip Santoso, S. Ikom, Ph. D., selaku dosm pengasuh mata kuliah Penyajian Rmiah pada Program Pascasa~ana PsL Fakultas Pertanian Universitas Bengkulu.
3. Teman‑teman Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (BPT`P) Bengkulu
4. Para petani temak Desa Talang Benuang Kabupaten Seluma
5. Para petani ternak anggota plasma PT. Agricinal Kabupaten Bengkulu Utara
6. Rekan‑rekan mahasiswa Program Pascasa~ana PsL Fakultas Pertanian Universitas Bengkulu
Atas bantuan serta bimbingannya baik dalam memberikan informasi data maupun cara penyajiannya sehingga artikel yang sederhana ini dapat terselesaikan. Kami menyadari sepenuhnya tanpa bantuan dan bimbingan dari semuanya tidak mungkin tulisan ini dapat terselesaikan.
DAFTAR PUSTAKA
Agustin, F. 1996. Pengaruh penggunaan bungkil inti sawit (“palm kernel cake”) di dalam ransum domba terhadap daya cerna protein dan retensi nitrogen. J. Peternakan dan Lingkungan 2 (1): 21‑24.
Anonymous. 2002. Asian livestock October‑December 2002. hhtp://www.aphca.org/livestock/2002/Asian livestock V26 no4.
Aritonang, D. 1984. Pengaruh penggunaan bungkil inti sawit dalam ransum babi yang sedang tumbuh. Disertasi. Fakultas Pasca Sa~ana Institut Pertanian Bogor.
BPS (Biro Pusat Statistik) Bengkulu. 2007. Bengkulu Dalam. Angka Tahun 2006. Bengkulu.
Chin, F.Y. 2002. Utilization of palm kernel cake as feed in Malaysia.Asian Livestock 26 (4):19‑26. FAO Regional Office, Bangkok.
Elisabeth, J. dan S.P. Ginting. 2004. Pemanfaatan hasil samping industri kelapa sawit sebagai bahan pakan ternak sapi potong. In.: Sistem Integrasi Kelapa Sawit‑Sapi. Pros. Lokakarya Nasional. Hal. 110‑119. Dept. Pertanian, Pemda Prov. Bengkulu dan P.T. Agricinal. Bengkulu.
Hutagalung, R.I., M.D. Mahyuddin, B.L. Braithwaite, P. Vijchulata and S. Dass. 1986. Digestibility and performance of cattle fed palm kernel cake and ammoniated palm pressed fiber under intensive system. Proc. 8h Ann. Conf. MSAP. pp. 87‑9 1. Universiti Pertanian Malaysia, Selangor.
Mathius, I.W., D. Sitompul, B.P. Manurung dan Azmi. 2004. Produk samping tanaman dan pengolahan buah kelapa sawit sebagai bahan dasar pakan komplit untuk sapi: Suatu tinjauan. In.: Sistem Integrasi Kelapa SawitSapi. Pros. Lokakarya Nasional. Hal. 120‑128. Dept. Pertanian, Pemda Prov. Bengkulu dan P.T. Agricinal. Bengkulu.
Mathius, I.W., A.P. Sinurat, B.P. Manurung, D.M. Sitompul, dan Azmi. 2005. Ujikaji dan Optimalisasi Teknik Fermentasi Lumpur Sawit Skala Lapang Serta Pemanfaatannya Sebagai Bahan Pakan Sapi Potong. Laporan Akhir Penelitian. Proyek PAAT?. Badan Penelitian Dan Pengembangan Pertanian, Dept. Pertanian.
Mustaffa‑Babjee, A., H. Hawari, and M.R. Rosli. 1984. PaImbeef.‑ A value added product of palm kernel cake. Proc. 8th Ann. Conf, MSAP. pp. 92‑93. Universiti Pertanian Malaysia, Selangor.
Rossi, E, dan N. Jamarun. 1997. Pengaruh penggunaan serat sawit dan bungkil inti sawit dalam ransum terhadap daya cerna bahan kenng, protein kasar dan retensi nitrogen pada domba lokal. . J. Peternakan dan Lingkungan 3 (3):19‑24.
Sinurat, A.P., T. Purwadaria, I.W. mathius, Tyasno, H. Hamid dan B.P. Manurung. 2005. Pengembangan Teknologi Fermentasi Limbah Sawit (ferlawit) untuk pakan ternak Skala Produksi Komersil. Laporan Hasil Penelitian. Kedasama antara Balai Penelitian Ternak ‑ Ciawi & P.T. Agricinal ‑Bengkulu
Suharto. 2004. Pengalaman pengembangan usaha. system integrasi sapi‑kelapa sawit di Riau. Pros. Lokakarya Nasional. Hal. 57‑63. Dept. Pertanian, Pemda rov. Bengkulu dan P.T. Agricinal. Bengkulu.
Sutardi, T. 1991. Aspek nutrisi sapi Bali. Proc. Sem. Nas. Sapi Bali. Fakultas Peternakan UNHAS, Ujung Pandang. Hal. 85‑109.
Wenten, I.G. 2004. Solusi terpadu program zero waste effluent dan integrasi kebunternak dalam industri CPO. Dalam: B. Haryanto, I.W. Mathius, B.R. Prawiradiputra, D. Lubis, A. Priyanti dan A. Djajanegara (Eds.). Sistem Integrasi Tanaman ‑ Ternak .. Pros. Sem. Nas. Pusat Penelitian dan Pengembangan Petemakan, Balai Pengkajian Teknologi Pertanian Prov. Bali dan Crop‑Animal System research network (CASREN), Bogor.