Tentang NTI
Negeri Ternak Indonesia merupakan Organisasi Non Pemerintah yang ingin turut berpartisipasi dalam pengembangan peternaka...
Program: Pemberdayaan Peternak, Riset Peternakan Terapan, Pemasaran Ternak, Investasi untuk Peternak, Akikah Terbaik, Ku...
Special Program: Akikah Terbaik dan Kurban Terbaik.
RSS
Feb 23
Riset dan Aplikasi
Jerami Padi Sebagai Pakan Ternak PDF Print E-mail
Friday, 20 January 2012 15:52


(( Kandungan-kandungan zat pakan dalam jerami padi inilah yang digertak kondisinya dengan enzim xilanase. Alhasil, kandungan seratnya menurun. Segangkan protein kasarnya meningkat, sehingga kandungan gizinya dapat dimanfaatkan sebagai pakan ternak. ))

Jerami padi biasa dimanfaatkan sebagai pakan ternak. Terlebih bila musim kemarau menjerang. Sayangnya kandungan nutrisi dan kecernaannya rendah, apalagi bila dibandingkan dengan pakan hijauan. Hal ini lantaran tingginya kadar serat kasar sebagai penyusun dinding sel tanaman. Juga rendahnya kadar protein serat kasarnya.

Mengingat jerami padi mudah didapatkan sebagai alternatif pakan ternak, peternak acap mengupayakan perbaikan potensi pakan jerami padi ini. Ahli pakan ternak Mirni Lamid dari Departemen Peternakan FKH Unair Surabaya memberi jalan perbaikan ini dengan perlakuan biologi mengunakan enzim xilanase.

Kata Mirni Lamid, perlakuan biologi menggunakan enzim xilanase pada jerami padi itu selain ramah lingkungan juga mampu memperbaiki potensi pakan berserat. Proses kimianya adalah dengan mengubah struktur ligno selulosa dan lignohemiselulosa.

Sehingga, “Akan lebih memudahkan degradasi fraksi hemiselulosa pada jerami padi secara efisien dan optimal,” kata Mirni Lamid. Dari hasil penelitiannya, penambahan enzim xilanase dengan waktu inkubasi 2 hari dapat menurunkan kandungan serat dan meningkatkan kandungan protein kasar.

Manfaatnya, menurut Mirni Lamid, penggunaan enzim Xilanase dapat memberi respon positif dalam peningkatan kualitas jerami padi sebagai pakan ternak ruminansia tersebut. Mengapa bisa demikian, ahli pakan ternak itu menjelaskan semua berdasar penelitiannya.

Enzim Xilanase sebagaian besar dihasilkan oleh mikroorganisme seperti bakteri dan fungi. Kelompok enzim glikosil hidrolase mampu memecah ikatan glikosidik pada xilan dengan kecepatan lebih dari 10 pangkat 17 kali. “Oleh sebab itu, keberadaan enzim ini memegang peranan penting dalam mendegradasi limbah yang kaya hemiselulose,” kata Mirni Lamid.

Hemiselulose merupakan polisakarida struktural sel tanaman terbanyak kedua setelah selulose. Komponen hemiselulose terpenting dari sel tanaman adalah xilan tersebut. Xilan tersusun atas rantai polixilos membentuk heteropolisakadrida bercabang yang sulit didegradasi oleh mikroba rumen.

Dalam penelitian Mirni Lamid tersebut, ia melalui tahap-tahap esksplorasi enzim xilanase untuk mengetahui optimasi pH dan suhu. Kemudian uji potensi enzim xilanase dalam upaya meningkatkan kualitas jerami yang meliputi kandungan bahan kering, bahan organik, serat kasar dan protein kasar.

Kandungan-kandungan zat pakan dalam jerami padi inilah yang digertak kondisinya dengan enzim xilanase. Alhasil, kandungan seratnya menurun. Segangkan protein kasarnya meningkat, sehingga kandungan gizinya dapat dimanfaatkan sebagai pakan ternak. (YR)

sumber: www.majalahinfovet.com / gambar: www.google.co.id

Last Updated on Friday, 20 January 2012 16:00
 
Teknologi Pengolahan Cangkang Kakao Menjadi Pakan Ternak PDF Print E-mail
Friday, 02 July 2010 17:36

Dari buah kakao yang dipanen, sampai saat ini hanya biji yang dapat dimanfaatkan secara komersial, sementara kulit kakao (husk) dan plasenta masih berupa limbah. Kulit buah kakao banyak mengandung menerak seperti K dan N, protein, lemak, dan sejumlah asam organik.
Karena kandungan meneral, nutrisi, dan jumlah yang dapat diperoleh cukup banyak, maka potensi kulit buah kakao untuk diolah menjadi pakan memiliki prospek yang baik. Teknologi pengolahan cangkang kakao menjadi pakan cukup sederhana, yakni:

  1. Kulit buah (cangkang) kakao yang telah dikumpulkan dicacah sampai menjadi partikel-partikel kecil. Pencacahan dimaksudkan untuk memudahkan proses pengeringan dan penggilingan.
  2. Hasil cacahan difermentasi dengan larutan Aspergillus niger dengan perbandingan 1 ltr A. niger : 10 ltr air (untuk 200 kg cangkang kakao). Proses fermentasi berlangsung 5–6 hari, setelah itu dijemur sampai kering.
  3. Selanjutnya dilakukan penggilingan kulit buah kakao yang telah kering dengan menggunakan mesin penggiling/penghancur (hammer mill) atau ditumbuk.
  4. Hasil penggilingan dapat berupa tepung (powder) atau butiran (crumble) tergantung ukuran saringan yang dikehendaki kemudian dicampur ke ransum sapi.


Pengggunaan kulit buah kakao yang telah difermentasi sebanyak 1,5% bahan kering dari bobot badan sapi dapat dapat meningkatkan pertambahan berat badan harian sapi sebesar 0,33 kg/hari lebih tinggi dari pada penggunaan pakan lokal (0,22 kg/hari).

 

sumber : sultra.litbang.deptan.go.id

 
Pengembangan Kambing Jawa Randu Melalui Aplikasi Teknologi Reproduksi LASERPUNKTUR PDF Print E-mail
Sunday, 17 January 2010 09:51

 

Kambing merupakan ternak yang sudah memasyarakat di Indonesia. Ternak kambing sudah lama diusahakan oleh petani atau masyarakat sebagai usaha sampingan atau tabungan

Last Updated on Sunday, 17 January 2010 10:46
 
Bank Sperma/Semen Sapi Bali untuk Konservasi dan Pengembangan Sapi Bali PDF Print E-mail
Saturday, 26 December 2009 05:36

Potensi peternakan di Bali khususnya Nusa Penida masih memegang peran yang cukup penting serta strategis dalam mendorong perekonomian masyarakat. Potensi ternak sapi bali  selain sebagai komoditi ternak potong juga sebagai ternak bibit. Indikasi akhir-akhir ini disinyalir terjadi  penurunan populasi dan produktivitas sapi bali asli, baik sebagai ternak potong maupun sebagai ternak bibit. Upaya untuk meningkatan produktivitas sapi bali diperlukan upaya pengaturan dinamika populasi seperti pemotongan, tingkat kelahiran dan penekanan kematian juga  sistem pengelolaan usaha peternakan yang dilakukan peternak.

Produksi sapi induk, bakalan serta anak dapat dilakukan melalui teknik Inseminasi Buatan (IB) menggunakan pejantan unggul.  Hal ini mendukung program breeding dalam pemilihan bibit unggul dan menunjang efisiensi pada peternakan sapi.  Aplikasi teknologi IB dengan mengunakan semen pejantan unggul yang telah diseleksi untuk produksi bibit sapi unggul diharapkan dapat meningkatkan produktivitas sapi lokal yang berlipat ganda dalam waktu relatif singkat. Di samping itu aplikasi teknologi ini tidak hanya meningkatkan populasi ternak tetapi juga perbaikan mutu genetik.

Last Updated on Saturday, 26 December 2009 05:43
 
Pengobatan Tradisional pada Penyakit Ternak Kambing PDF Print E-mail
Saturday, 26 December 2009 05:27

Ternak kambing merupakan ternak yang umum dipelihara di pedesaan. Masalah yang sering dijumpai adalah serangan penyakit yang sangat merugikan peternak karena dapat menghambat pertumbuhan, reproduksi, bahkan kematian ternak.

Bagi peternak di pedesaan untuk mengobati ternak yang sakit sering mengalami kesulitan, karena jauh dari kota (toko obat) dan harga obat yang terlalu mahal, sehingga sulit terjangkau oleh peternak. Untuk mengatasi hal tersebut, perlu dicari alternatif lain yaitu dengan menggunakan obat tradisional yang ada dan dapat dilakukan peternak serta harganya murah. Namun demikian usaha pencegahan juga perlu dilakukan dengan menjaga kebersihan ternak dan lingkungannya, pemberian pakan yang cukup (kualitas dan kuantitas), bersih dan tidak beracun. 

Lembar Informasi Pertanian (LIPTAN) LPTP Koya Barat memberikan Tips bagi Anda untuk mengatasi berbagai penyakit yang sering menyerang kambing melalui pengobatan tradisional.

Last Updated on Saturday, 26 December 2009 05:33
 
  • «
  •  Start 
  •  Prev 
  •  1 
  •  2 
  •  Next 
  •  End 
  • »


Page 1 of 2

NEGERI TERNAK INDONESIA - Mitra Pengembangan Peternakan Rakyat
Jl. Arzimar II No. 42 RT 02/ 18 Bogor Utara, Jawa Barat - INDONESIA | Mobile +62-811 110 1053 | SMS Centre: 087 873 737 684
Email : negeriternak@yahoo.com