NEGERI TERNAK INDONESIA Mitra Pengembangan Peternakan Rakyat Jl. Arzimar II No. 42 RT 02/ 18 Bogor Utara, Jawa Barat - INDONESIA Mobile : (0251) 4784 400 SMS Centre : 0878 7373 7684 Email : negeriternak@yahoo.com
Peningkatan Dayasaing Peternakan Dengan Pendekatan Supply Chain Management
Saturday, 19 December 2009 11:36
Pemasaran produk-produk peternakan di Indonesia mengalami transformasi yang sangat cepat sebagai respons adanya peningkatan pendapatan, perubahan gaya hidup, industrialisasi, globalisasi dan perkembangan teknologi informasi yang begitu cepat. Globalisasi dan industrialisasi yang demikian cepat telah menciptakan ”konsumen-konsumen baru” dengan tuntutan yang semakin kompleks yang terkait dengan produk-produk peternakan. Konsumen tidak hanya menilai jenis dan harga produk semata, tetapi menuntut atribut yang lebih rinci lagi seperti atribut keamanan produk (safety attributes), atribut nutrisi (nutritional attributes), atribut nilai (value attributes), atribut pengepakan (package attributes), atribut lingkungan (ecolabel attributes) dan atribut kemanusiaan (humanistic attributes). Bahkan aspek animal welfare menjadi persyaratan baru. Pada intinya, konsumen menuntut produk yang murah, cepat dan berkualitas.
Globalisasi dan liberalisasi perdagangan juga merubah peta perdagangan produk-produk peternakan di dunia. Peranan perusahaan-perusahaan multinasional semakin besar dalam pasar domestik melalui outlet-outlet supermarket dan hypermarket yang mereka kembangkan. Keberadaan supermarket dan hypermarket menuntut adanya standardisasi dan grading yang berlaku di seluruh dunia. Akibat perkembangan Information, Communication Technology (ICT) yang demikian cepat, aliran transaksi dan informasi pasar diantara para pelaku pasar berjalan dengan sangat pesat, dimana hambatan lokasi dan waktu dapat diminimisasikan.
Sumber-sumber pertumbuhan utama industri peternakan dikenal dengan sebutan revolusi peternakan, revolusi supermarket dan revolusi putih. Ketiga sumber pertumbuhan tidak dapat terealisasikan dengan baik jika dayasaing produk peternakan tidak dapat secara terus menerus ditingkatkan. Dayasaing produk peternakan erat kaitan dengan peningkatan nilai tambah (value added) yang sangat tergantung oleh integrasi sistem, mulai dari sub sistem hulu sampai dengan sub sistem hilir. Dayasaing produk peternakan tidak hanya ditentukan oleh kinerja ”on farm activities” itu sendiri, akan tetapi ditentukan pula oleh kinerja keseluruhan rantai (”on farm and off farm activities”). Pendekatan Supply Chain Management (SCM) diyakini oleh para akademisi, para peneliti, kalangan bisnis dan birokrat mampu mengintegrasikan setiap rantai distribusi dari produsen, pengolah, pedagang besar dan eceran, yang menjamin adanya kualitas yang sangat baik, kuantitas yang sesuai yang dibutuhkan, waktu pengiriman sebagaimana yang dijanjikan dan adanya kesinambungan dengan menganut prinsip minimisasi biaya dalam operasionalisasinya.
SCM dan Dayasaing Produk Peternakan
Brown (2002) mendefinisikan Supply Chain Management (SCM) sebagai “a combination of different arrangements occurring between various business entities involved in the production, procurement, processing, and marketing of a product or products. The arrangements include aspects of marketing, economics, logistics and organizational behaviour”. Penerapan SCM menuntut industri untuk (a) memenuhi kepuasan konsumen, (b) mengembangkan produk tepat waktu, (c) mengeluarkan biaya yang rendah dalam bidang persediaan dan penyerahan produk, dan (d) mengelola industri secara cermat dan fleksibel. Kondisi ini menunjukkan bahwa SCM merupakan metode untuk mendapatkan competitive advantage bagi industri peternakan dalam memberikan pelayanan yang cepat dengan variasi produk peternakan yang tinggi dan cost yang rendah, sehingga industri peternakan dapat tetap bertahan di tengah persaingan yang semakin ketat.
Pentingnya penerapan SCM pada industri peternakan ini didasarkan alasan bahwa selama ini keterkaitan setiap sub sistem yang terlibat pada umumnya masih tersekat-sekat, sehingga sulit untuk bersaing di pasar yang penuh dengan persaingan. Hal ini dapat dilihat dari terpisahnya operasionalisasi sub sistem hulu sampai dengan sub sistem hilir. Sub sistem banyak diperankan oleh pengusaha dalam skala produksi kecil, dan tidak memiliki posisi tawar yang kuat. SCM pada industri peternakan dapat diterapkan secara maksimal dengan memperbaiki beberapa kekurangan yang menghambat sistem ini, yaitu dengan mentransformasikan struktur yang tersekat dan terpisah tersebut kepada struktur integrasi yang vertikal. Hal tersebut dimaksudkan untuk memadukan sub sistem hulu sampai dengan hilir dalam satu keputusan manajemen. Pembangunan sistem yang terintegrasi dalam industri peternakan merupakan upaya untuk meningkatkan dayasaing. Upaya tersebut dikembangkan dengan bentuk-bentuk yang mampu mengakomodasi pelaku-pelaku industri dari setiap sub sistem yang ada.
Dengan penerapan SCM, koordinasi dan integrasi antar sub sistem mampu ditangani secara lebih komprehensif sehingga dapat memberikan insentif bagi para pelaku untuk bekerjasama. Rantai suplai yang terintegrasi akan meningkatkan keseluruhan nilai yang dihasilkan oleh rantai suplai tersebut. Secara umum, penerapan SCM memberikan manfaat langsung bagi industri peternakan itu sendiri. Pertama, SCM secara fisik dapat mengkonversi bahan baku menjadi produk jadi dan mengantarkannya kepada konsumen akhir. Manfaat ini menekankan pada fungsi produksi dan operasi dalam sebuah industri. Dalam fungsi ini dilakukan penggunaan dari seluruh sumber daya yang dimilki dalam sebuah proses transformasi yang terkendali, untuk memberikan nilai pada produk yang dihasilkan sesuai dengan kebijaksanaan industri dan mendistribusikannya kepada konsumen yang dibidik. Kedua, SCM berfungsi sebagai mediasi pasar, yaitu memastikan apa yang dipasok oleh rantai suplai mencerminkan aspirasi pelanggan atau konsumen akhir tersebut. Dalam hal ini fungsi pemasaran yang akan berperan. Melalui pelaksanaan SCM, pemasaran dapat mengidentifikasi produk dengan karakteristik yang diminati konsumen. Selanjutnya fungsi ini harus mampu mengidentifikasi seluruh atribut produk yang diharapkan konsumen tersebut dan mengkomunikasikan kepada perancang produk.
Disadari bahwa rantai nilai (value chain) merepresentasikan kegiatan yang penting secara strategis yang dapat memberikan industri untuk mencapai sukses dalam sebuah kompetisi yang menguntungkan di dalam pasar. Keuntungan yang lebih besar diraih dalam penerapan SCM pada industri peternakan adalah SCM dapat dijadikan sarana alih teknologi dari perusahaan-perusahaan yang menguasai teknologi modern kepada peternak-peternak kecil sebagai mitra kerjanya. Proses alih teknologi tersebut akan berdampak pada peningkatan kualitas dan pemenuhan preferensi kualitas konsumen, terutama untuk tujuan ekspor. Dengan demikian nilai dan pasar ekspor dari produk peternakan Indonesia dapat dikembangkan secara berkesinambungan.
Aksi yang Dibutuhkan Dalam Peningkatan Dayasaing Melalui SCM
Penerapan SCM sebagai salah satu upaya peningkatan dayasaing produk-produk peternakan memerlukan langkah-langkah yang seyogianya menjadi perhatian bagi para stakeholders yang terkait antara lain pertama, menciptakan hubungan antar rantai agar lebih spesifik pada bidang usaha sehingga terbentuk pola yang terpadu dan saling terkait. Kedua, seyogianya harus ada dukungan manajemen. Manajemen semua level dari strategis sampai operasional harus memberikan dukungan mulai dari proses perencanaan, pengorganisasian, koordinasi, pelaksanaan, sampai pengendalian. Ketiga, membangun kemitraan dalam suatu kesepakatan pada keseluruhan rantai. Pola kemitraan yang terbentuk yaitu hubungan kerja sama antara peternak, perusahaan maupun pembeli bersifat lebih spesifik dan berfokus pada volume, distribusi, lead time, dan mutu. Dengan membangun suatu kemitraan yang handal maka akan terbentuk komitmen yang kuat untuk menciptakan SCM sehingga pengontrolan terhadap persediaan pasokan dapat dilakukan secara efisien dalam biaya. Keempat, membangun sistem informasi yang terintegrasi di setiap bagian yang terlibat dalam sistem rantai pasokan sehingga akan mendukung kinerja dan produktivitas dari masing-masing rantai pasokan tersebut. Diharapkan dengan langkah-langkah diatas, penerapan SCM pada industri peternakan mampu meningkatkan nilai tambah yang akan meningkatkan pula dayasaing produk-produk peternakan.