| Ketahanan Pangan Berbasis Daya Beli |
|
|
|
| Saturday, 19 December 2009 11:36 |
|
SINGKATNYA musim hujan yang terjadi setiap tahun merupakan salah satu ciri khas iklim yang dimiliki Nusa Tenggara Timur (NTT). Kondisi yang demikian menimbulkan berbagai dampak negatif yang saling terkait. Misalnya, karena curuh hujan yang rendah menyebabkan kestabilan dan kontinuitas ketersediaan air tanah dan air permukaan tidak dapat bertahan sepanjang tahun, dan karena itu hampir semua jenis usahatani, terutama usahatani tanaman semusim yang diusahakan pada lahan kering, penanamannya tidak dapat dilakukan lebih dari sekali dalam setahun, bahkan sering mengalami kegagalan panen kalau ditanam terlambat. Karena itu tidak perlu heran kalau masyarakat daerah ini, khususnya para petani subsisten (yaitu petani yang orientasi usahataninya hanya untuk mencukupi kebutuhan keluarganya sendiri), sampai saat ini tidak pernah terbebas dari masalah kekurangan pangan setiap tahun, karena kebutuhan pangan keluarga sepanjang tahun pada umumnya semata-mata bergantung pada hasil usahatani tanaman pangan yang diusahakan sendiri dan nota bene frekuensi penanamannya hanya sekali dalam setahun. Gambaran di atas memberikan indikasi bahwa kalau di NTT masih menggunakan upaya yang sama seperti diterapkan selama ini dalam rangka ketahanan pangan masyarakatnya, maka sampai kapan pun daerah ini tidak akan pernah terbebas dari stigma daerah rawan pangan, daerah lapar, dan daerah kurang gizi. Strategi upaya untuk mewujudkan ketahanan pangan yang kita gunakan selama ini adalah terus menerus mendorong petani untuk mengembangkan tanaman pangan dan meningkatkan produksinya melalui penggunaan teknologi yang lebih produktif. Dari upaya tersebut, walaupun telah digencarkan oleh setiap pemimpin daerah yang pernah berkuasa di NTT, hasilnya sama saja, NTT tetap terbelenggu dengan masalah rawan pangan, dan masalah gizi buruk. Kalau demikian berarti upaya tersebut merupakan strategi yang kurang tepat. Tentunya kita tidak perlu mempersalahkan siapa-siapa atas penetapan strategi yang kurang tepat tersebut. Ini adalah kelemahan kita semua yang berperan sebagai agen pembaharu (change agent), baik para birokrat, legislator, politisi, akademisi, pebisnis, maupun para pelaku NGO (Non Governmental Organization). Kita sepertinya belum mampu menemukan apa sebenarnya yang menjadi akar masalah sehingga sampai saat ini NTT tetap teridentifikasi sebagai daerah rawan pangan dan daerah gizi buruk. Menurut hemat saya, yang menjadi akar masalah mengapa NTT sampai saat ini sering mengalami kekurangan pangan dan gizi buruk, yang paling utama adalah karena singkatnya musim hujan yang terjadi pada setiap tahun, dan ini sudah menjadi takdir daerah NTT. Biar kita berlutut sampai lutut kram, berdoa sambil menangis, dan berpuasa bertahun-tahun untuk memohon agar Tuhan dapat mengubah NTT menjadi suatu daerah yang banyak hujan, jelas itu adalah upaya sia-sia. Tuhan tetap menetapkan NTT sebagai daerah kering sampai kapan pun. Karena itu kalau kita tetap menggunakan strategi ketahanan pangan yang berbasis produksi sendiri di NTT, artinya upaya peningkatan ketahanan pangan yang mengandalkan peningkatan produksi tanaman pangan yang diusahakan oleh masyarakat NTT itu sendiri, maka sampai kapan pun kita tidak akan mampu menyelesaikan persoalan kekurangan pangan di daerah ini, terutama pada wilayah-wilayah yang didominasi oleh lahan kering. Mengapa demikian? Jawabannya adalah karena NTT memiliki musim hujan yang pendek, yakni hanya 3 - 4 bulan dalam setahun. Musim hujan yang demikian biasanya tidak mampu menyediakan air tanah dan air permukaan secara stabil dan kontinu sepanjang tahun. Akibatnya, tanaman semusim yang pada umumnya merupakan tanaman pangan, tidak dapat diusahakan lebih dari satu kali dalam setahun, kecuali usahatani padi sawah pada lahan sawah irigasi teknis yang dapat menyediakan air secara permanen. Harus disadari bahwa tanaman semusim pada umumnya berakar serabut dan dangkal sehingga akar-akar tersebut tidak mampu menjangkau air yang terdapat jauh di bawah permukaan tanah dan karenanya kelompok tanaman ini tidak bisa hidup pada musim kering. Jadi walaupun saat ini kita gencar dengan program pengembangan tanaman pangan lokal, menurut saya, hasilnya nanti sama saja, kita tetap kekurangan pangan, terkecuali kalau dalam program tersebut juga diikuti program pembangunan sarana embung atau jebakan air hujan secara besar-besaran, karena sifat curah hujan di NTT memiliki kekhasan tersendiri, yakni musimnya sangat singkat tetapi daya curahnya sangat lebat. Karena topografi daerah NTT dominan berbukit dan berlereng, ditambah lagi dengan keadaan yang tandus, maka air hujan yang turun lebih banyak lari ke laut dalam bentuk erosi dan banjir bandang daripada yang meresap ke dalam tanah. Jadi di NTT, berdasarkan kondisi curah hujan dan topografinya, sangat dianjurkan untuk lebih banyak dibangun sarana-sarana jebakan air dan embung agar air hujan yang turun dapat ditangkap dan diresapkan ke dalam tanah atau ditampung di embung-embung untuk dimanfaatkan pada musim kering, terutama untuk pertanian. Karena akar masalahnya adalah kurang hujan yang menyebabkan rendahnya frekuensi penanaman dan kontinuuitas produksi tanaman pangan di NTT dalam setahun, maka satu-satunya jalan untuk mengatasi masalah ketahanan pangan di daerah ini adalah masyarakat harus mengembangkan komoditi-komoditi yang mampu bertahan hidup pada musim kering seperti tanaman keras (hard crops) misalnya: kopi, kelapa, kemiri, kakao, cengkeh, pinang, jambu mete, dan tanaman perkayuan/kehutanan, ternak seperti: ayam, babi, kambing, domba, sapi, kuda, dan kerbau, dan komoditi kelautan seperti: rumput laut, dan perikanan. Jadi ketahanan pangan yang berbasis peningkatan produksi tanaman pangan, sebaiknya bukan lagi menjadi prioritas pembangunan pertanian di NTT, terutama pada daerah-daerah yang didominasi lahan kering. Perlu disadari, sebaik apa pun keunggulan tanaman pangan lokal, terutama jika ditinjau dari segi kemampuannya dalam beradaptasi dengan lingkungan yang kering, tetapi karena singkatnya musim hujan yang terjadi di NTT, produksi dari tanaman tersebut tetap terbatas. Sampai saat ini belum satu pun jenis tanaman pangan lokal NTT yang mampu bertumbuh dan berproduksi secara normal pada musim kering, kecuali air irigasi tersedia secara baik. Kalau demikian bagaimana caranya supaya para petani dan nelayan di NTT memiliki ketahanan pangan yang kuat? Di antara kita yang ada di NTT, ada yang mempersalahkan pemerintahan orde baru dalam kaitan dengan kebijakannya untuk meningkatkan ketahanan pangan nasional, yaitu program swasembada beras, di mana yang menjadi prioritas perhatian pembangunan pertanian kita adalah peningkatan produksi usahatani padi sawah yang tentunya kurang sesuai dengan ketersediaan sumber daya alam NTT. Memang kalau strategi ketahanan pangan kita masih tetap berbasis produksi sendiri, jelas tidak cocok, tetapi kalau kita menggunakan strategi ketahanan pangan yang berbasis daya beli maka program swasembada beras yang digencarkan sejak pemerintahan orde baru itu jelas tidak salah, karena banyak daerah lain di Indonesia yang mempunyai potensi lahan sawah. Yang penting kita orang NTT harus memiliki uang yang cukup. Kalau petani atau nelayan kita sudah mempunyai uang yang cukup, apa pun bisa dibeli, termasuk beli beras untuk makan. Masih kuat dalam ingatan saya, sewaktu berada di India selama satu bulan pada tahun 1998, saya menyaksikan bagaimana orang India Selatan yang walaupun potensi sumber daya alamnya tidak cocok untuk membudidayakan tanaman gandum, karena kering seperti NTT sehingga tidak mampu menghasilkan gandum sendiri, tetapi penduduknya, termasuk petani dan nelayan, tetap menggunakan gandum yang dihasilkan oleh India Utara sebagai makanan pokok (staple food). Kuncinya di sini adalah proses distribusi gandum dari India Utara ke India Selatan berjalan lancar, dan orang India Selatan mampu membeli gandum yang dipasarkan oleh India Utara. Bagaimana orang India Selatan memiliki daya beli terhadap hasil gandum yang dipasarkan oleh India Utara? Mereka mengembangkan secara baik komoditi-komoditi yang cocok dengan keadaan sumber daya alam India Selatan, antara lain ternak sapi perah untuk daerah tropis. Dengan usaha ini mereka dapat memiliki uang tunai harian hasil jual susu dan selanjutnya mereka gunakan uang itu untuk membeli gandum dan kebutuhan pokok lainnya. Pengalaman di atas memberikan inspirasi bahwa sebaiknya orang NTT tidak perlu harus menggunakan jagung sebagai makanan pokok. Biar kita beralih ke jagung atau pangan lokal yang lainnya, pasti kita tetap mengalami rawan pangan. Kenyataan menunjukkan bahwa sampai saat ini, belum satu pun daerah di NTT yang dapat dijadikan referensi sebagai daerah yang mempunyai ketahanan pangan yang kuat walaupun potensi dan makanan pokok penduduknya adalah jagung. Yang terpenting menurut saya, orang NTT harus memiliki uang yang banyak sebagai hasil pejualan dari komoditi-komoditi yang dikembangkan sesuai dengan potensi sumber daya alam NTT, seperti yang telah dikemukan terdahulu, namun pengusahaannya harus bersifat agribisnis. Saya sangat mendukung program pengembangan tanaman keras, pengembangan usaha ternak dan kelautan seperti yang dicanangkan oleh Pemerintah NTT saat ini, karena komoditi-komoditi ini sesuai dengan potensi sumber daya alam NTT. Namun usaha-usaha tersebut harus dapat menghasilkan uang supaya orang tanam kakao dan jambu mete, atau pelihara ternak tetapi untuk makan beras. Ini berarti semua komoditi yang diusahakan masyarakat yang cocok dengan kondisi daerah NTT harus mempunyai pasar yang jelas dan pasti. Untuk itu pemerintah harus mampu menciptakan pasar, antara lain dengan memfasilitasi pembangunan industri-industri yang menggunakan hasil-hasil pertanian NTT sendiri sebagai bahan baku, misalnya industri pakan tenak, atau giat mempromosi hasil pertanian produksi NTT ke luar daerah atau ke luar negeri. Jauh lebih baik lagi kalau pemerintah daerah mampu mendirikan dan memberdayakan perusahaan-perusahaan daerah yang dapat menampung hasil-hasil pertanian produksi NTT. Dan dengan demikian pemasaran hasil-hasil pertanian NTT tidak mengalami kesulitan, sehingga motivasi dan kinerja petani dalam bertani akan meningkat, terutama dalam penggunaan teknologi-teknologi yang lebih produktif dan lebih menguntungkan. Oleh : Serman Nikolaus, Staf Pengajar Undana, Kupang Sumber : http://tv.pos-kupang.com/read/artikel/39668
Bookmark
Email this
Hits: 120 Comments (0)
![]() Write comment
|










